Let’s Not

Bulan terakhir di tahun 2018 sudah dijalani. Musim hujan pun telah menyapa. Sering kali cuaca berubah tak menentu hanya dalam hitungan menit.

Hai, semua! Maafkan aku yang telah meninggalkan blog ini selama beberapa waktu. Banyak sekali kesibukan pasca Lebaran tahun ini. Mulai dari urusan pekerjaan di kantor yang semakin menyita waktu, persiapan mendaftar ini-itu yang menguras energi serta biaya dan masalah hati yang baru saja terluka.

I broke up with my former boyfriend about a week ago.

Ada yang mau tanya gimana rasanya? Ah, masa iya soal kaya gini aja kudu ditanyain gimana rasanya. Walaupun perpisahan kami mengucapkan kata perpisahan dengan serangkaian kata maaf dan terima kasih teriring do’a untuk kebahagiaan kami masing-masing, tetap saja itu menyakitkan. Setidaknya buatku.

Pertama kali bertemu dengannya tepat tanggal 14 Februari 2018 di kantorku. Kami bekerja di instansi yang sama walaupun berlainan gedung. Aku menyadari bahwa dia baru bergabung kurang lebih sebulan yang lalu. Aku memperhatikannya sekilas lalu. Aku tidak pernah berusaha mencari tahu namanya atau apapun tentang dirinya sampai saat salah seorang teman kantorku membuat grup WhatsApp yang beranggotakan para lajang di kantor kami. Dia diundang untuk bergabung dalam grup kami. Saat itu kami membahas rencana jalan-jalan kami yang sayangnya tidak pernah terwujud sampai saat ini. Saat itulah, pertama kalinya aku tahu namanya.

Tidak ada yang aneh dari dirinya sampai beberapa bulan kemudian dia menghubungiku secara pribadi melalui pesan WhatsApp. Aku masih ingat di awal bulan Mei 2018 itulah, pertama kalinya dia mulai intens menghubungiku. Mulanya aku anggap sebagai kesopanan semata untuk membalas pesan dari teman sejawat. Namun beberapa hal dari dirinya mulai mengganggu kehidupanku. Jujur sudah lama sekali sejak terakhir kali aku dekat dengan lawan jenis yang memiliki rasa ketertarikan denganku. Selama ini semua yang dekat denganku hanya aku anggap sebagai teman saja.

Dia mulai memberanikan diri mengajakku bertemu di luar. It was a date. Awalnya aku menolak karena waktu yang tidak pernah tepat. Tepat setelah Idul Fitri lalu, aku mengiyakan ajakannya untuk pergi bersamanya. Kami menghabiskan waktu selama dua jam untuk saling berbincang mengenal satu sama lain. Aku tahu sebenarnya dia memiliki motif sendiri atas pertemuan itu. Namun sayangnya situasi dan kondisi tidak memihak kepadanya. Setelah pertemuan itu aku memutuskan diri untuk menarik diri darinya. Aku menyadari bahwa dia menginginkan hubungan yang lebih diantara kami. Aku gamang untuk menerima tawaran tersebut. Banyak hal yang menjadi pertimbanganku saat itu. Usia kami sudah sama-sama dewasa, meskipun dia lebih muda dua puluh bulan dariku, tidak seharusnya kami menjalani hubungan untuk main-main atau kesenangan semata.

Setelah berbagai penolakan dariku, dia tidak pernah menyerah untuk terus berada di sisiku. Dia masih gigih dengan keinginannya untuk menjadi laki-laki yang akan melindungiku. Aku merasa bahagia saat dia mengatakan ingin menikahiku. Belum pernah ada laki-laki yang begitu serius mengatakan itu padaku. Aku tersentuh. Aku mencoba untuk membuka hatiku padanya. Aku memberinya kesempatan untuk mewujudkan keinginannya dan sebaliknya dia memberiku kesempatan untukku belajar menyayanginya. Memutuskan menjalani hubungan dengannya bukan perkara mudah. Aku mengatakan padanya bahwa aku belum bisa menyampaikan hubungan ini atau mengenalkannya kepada kedua orang tuaku. Aku berasal dari keluarga konservatif. Papa Mamaku adalah orang tua yang sangat ketat atas hubungan anak perempuannya dengan lawan jenis. Lebih dari itu, sejujurnya aku belum mampu untuk terbuka dengan orang tuaku karena aku menyadari bahwa dia agak jauh dari apa yang diharapkan orang tuaku sebagai suamiku kelak. Pekerjaannya saat ini akan menjadi sasaran orang tuaku untuk menerimanya. Dan dengan tingkat pendidikan yang dia miliki, aku ragu apakah orang tuaku mampu menerimanya. Aku mengatakan ini semua padanya dan dia bisa menerima penjelasanku. Aku menghargainya sebagai laki-laki yang penuh pengertian.

Dalam menjalani hubungan itu, aku merasa bahwa karena pernikahan menjadi tujuan utama kami, obrolan dan diskusi kami hanya berputar masalah itu-itu saja. Sedari awal aku sudah menyadari bahwa sangat sedikit sekali kesamaan yang kami miliki. Namun aku selalu menepis pikiran itu dengan meyakinkan diriku sendiri bahwa jodoh itu saling melengkapi bukan dari dua orang yang sama persis. Seiring dengan makin mesranya hubungan kami berdua, aku merasa perlu mengambil jarak sedikit darinya. Saat itu, aku memiliki prioritas lain dalam karir yang ingin aku capai. Aku merasa aku tidak akan bisa meraih cita-citaku dengan konsentrasiku yang lebih tercurah padanya. Aku meminta kami break sejenak dari hubungan itu. Dia setuju dengan berat hati. Meskipun akhirnya break itu tak berlangsung lama karena aku terlalu sedih memikirkannya yang terluka karena keinginkanku itu. Aku memintanya untuk menerimaku kembali. Aku meminta bimbingannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, perempuan yang selalu dia harapkan. Dan dia menyambutku kembali.

Aku tidak pernah mengira bahwa keputusan break itu akan membawa kami pada masalah yang tak bisa dipecahkan hingga hubungan kami berakhir. Sikapnya mulai berubah kepadaku. Sosok yang begitu lembut dan perhatian kepadaku perlahan mulai memudar. Janjinya untuk selalu menjadikanku sebagai prioritasnya mulai menghilang. Awalnya aku bisa memaklumi hal tersebut karena kesibukan pekerjaan yang semakin banyak. Aku tidak pernah menyadari bahwa sikapnya yang sering menghindar untuk sekadar menikmati akhir pekan bersamaku adalah bentuk protesnya atas sikapku yang dia anggap tidak sesuai. Dia mulai menceramahiku panjang lebar bahwa sikapku telah membuatnya sangat kecewa. Dia menganggap bahwa aku tidak bisa menjaga hati dan diriku hanya untuk dia seorang. Aku berani bersumpah aku tidak pernah berselingkuh di depan maupun di belakangnya. Aku menghormatinya sebagai calon imamku. Aku akhirnya menyadari banyak hal yang aku anggap biasa ternyata sangat krusial baginya. Ya. Aku bisa bilang bahwa dia menunjukkan rasa cemburu dan posesifnya. Aku meminta maaf padanya atas sikapku yang tidak pernah mengerti atau memahami perasaannya. Aku meminta dia untuk tetap membimbingku. Dia bersedia dengan serangkaian nasehat bagiku untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Aku mulai menyadari bahwa hubungan kami tampaknya akan sulit diselamatkan tidak lama setelah semakin seringnya kami bertengkar karena hal-hal sepele. Sebagai manusia dewasa, aku menganggap komunikasi adalah hal yang penting namun dia selalu menutup jalur komunikasi kami jika aku mulai menyinggung untuk masalah kepercayaan yang sedang kami dera saat itu. Aku menggunakan banyak cara untuk mengembalikan sosok yang sangat memujaku dulu itu. Satu hal, yang membuatku sangat terluka, dia mengatakan perlu waktu yang lama untuk kembali menjadi sosok itu apalagi setelah dikecewakan oleh perempuan yang dia percayai yaitu aku. Aku menangis saat itu membayangkan bagaimana diriku akan menjalani kehidupan pernikahan dengan sikapnya yang seperti itu. Aku menahan diriku untuk memintanya mengakhiri hubungan itu karena aku masih ingin sekali memegang teguh janjiku untuk terus dibimbing olehnya. Namun masalah itu seolah menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Puncaknya minggu lalu, dia mengungkapkan kemarahan dan kekecewaannya atas sikapku yang berbohong darinya jika aku pergi dengan laki-laki lain walaupun itu dalam rangka tugas kantor. Dia menghindariku. Mendiamkanku selama beberapa hari. Dia tidak lagi perlu merasa peduli atau perhatian apakah aku dalam kondisi sehat, apakah aku tetap selamat saat hujan mengguyur kota dan aku dalam perjalanan pulang ke rumah. Teriring rasa lelah yang luar biasa, aku menanyakan padanya bagaimana jika kami mengakhiri saja hubungan itu. Dia, dengan kesadaran penuh, mengiyakan. Sepanjang kami bersama, dia adalah orang yang paling keras menolak pilihan untuk berpisah. Saat itulah aku menyadari bahwa hubungan itu memang tidak bisa dipaksakan lagi.

Aku terluka. Menangis sejadi-jadinya keesokan harinya. Aku menghubungi sahabat-sahabatku untuk berbagi cerita. Setiap kali aku menjawab pesan sahabatku, air mataku pasti meleleh. Aku benar-benar hancur saat itu. Laki-laki yang aku percaya akan menjadi suami dan ayah yang baik itu memilih untuk melepasku. Laki-laki yang pernah berjanji menjadikan nyawanya sebagai taruhan untuk membahagiakanku dan anak-anak kami kelak itu memilih menyerah untuk memperjuangkanku. Laki-laki yang selalu lembut saat mencium dan memelukku itu memilih untuk mengakhiri semuanya.

Ikhlas. Berserah diri pada-Nya adalah hal yang bisa aku lakukan saat ini. Kadang terbesit rasa untuk kembali bersamanya. Namun aku menyadari untuk apa itu dilakukan jika hanya akan menambah dalam luka hatiku atas sikap dan ucapannya. Aku tidak tahu apakah dia masih menyayangiku atau menyesal atas perbuatannya namun aku menolak untuk berharap semua itu. Aku memilih pergi dan kembali menjadi teman kerjanya di kantor. Rasa sayang yang pernah ada untuknya sekarang berganti dengan rasa hampa dan air mata yang tidak bisa mengalir lagi setiap melihatnya dihadapanku.

Beberapa hari terakhir aku kembali mendengarkan lagu milik Super Junior K.R.Y berjudul Let’s Not. Lagu itu pernah aku jadikan sebagai inspirasi dalam pembuatan fanfiction. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu saat aku akan mengalami hal yang sama dengan lirik lagu itu.

Don’t love someone like me again

Don’t make someone to miss again

Someone who looks only you and needs only you

Meet someone who loves you so much, please, I hope you’ll be happy

Let’s not ever meet again

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s